SEKAPUR SIRIH
Kolaborasi menjadi kata kunci dalam manajemen konservasi modern. Menurunnya kepedulian tentang alam oleh sebagian besar umat manusia di dunia ini plus semakin minimnya keteladanan di dalam pengelolaan konservasi alam akan mempersulit totalitas pekerja konservasi dalam bergerak bebas. Mereka yang mencoba berbakti kepada alam tidak bisa lagi bekerja sendiri, mereka membutuhkan banyak teman untuk memuluskan tujuan yang ingin mereka capai, tujuan mulia untuk memelihara dan memperbaiki alam yang semakin rusak ini. Pak Wir mencoba membahas tentang “kolaborasi” pada rubrik 'Liputan Utama' Jejak Leuser edisi ini, selain juga tentunya beliau tetap menulis di rubrik 'Dari Kepala Balai'.
Dengan tampilan yang agak berbeda, yang kami usahakan lebih dinamis, Jejak Leuser edisi ini juga memuat tentang keprihatinan seorang Kristof, Mahasiswa USU, terhadap keberadaan jumlah populasi Gajah Sumatera di alam yang semakin hari semakin menurun. Juga tulisan Pak Harto tentang kantong semar, tumbuhan ‘pemakan’ hewan yang ternyata banyak sekali terdapat di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Leuser. Dan pada rubrik 'Potret', kami menampilkan Pak Selamat, Pegawai Balai TNGL Seksi Konservasi Wilayah III Alas Gayo yang telah 14 kali berhasil menapakkan kakinya di Puncak Leuser dan Loser sebagai pemandu.
Ada yang berbeda lagi, khusus pada edisi ini rubrik 'Intermezzo' memakan sampai 3 muka halaman. Tulisan menggelitik Bang Kafil, wartawan AP, yang menyoal tentang istilah-istilah asing dan (mungkin) keren yang sering dilontarkan punggawa-punggawa LSM di Indonesia dalam setiap percakapannya. Campur baur istilah inilah yang menjadi lucu ketika kita membaca rubrik itu.
Redaksi juga mengucapkan terima kasih kepada Bang Diding FFI atas gambar-gambar cantiknya yang selalu menghiasi setiap edisi Jejak Leuser.
Selamat membaca….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar