SEKAPUR SIRIH
Bencana datang silih berganti.... Tanah longsor dan banjir bandang di Jember memulai kisah pilu di awal tahun ini. Inikah balasan alam terhadap ketamakan manusia terhadapnya? Tidak sedikit manusia yang justru dengan bangga secara membabi buta mengeksploitasi alam, tanpa belas kasihan, tanpa memperhitungkan hari depan anak cucu kita.
Penjarahan hutan menjadi fenomena yang seakan sekarang sudah menjadi ‘hal yang biasa’ di telinga masyarakat negara kita yang katanya punya reputasi sebagai negara santun ini. Bagi orang yang beradab, yang peduli dengan anak cucu kita, seharusnya kita menangis dengan keadaan ini.....
Besitang, kawasan yang sarat dengan permasalahan menjadi berita utama di Jejak Leuser edisi ke-3 ini. Banyak hal akan dikupas dalam tulisan itu, mulai dari sejarah, permasalahan, sampai dengan beberapa action Balai TNGL dalam usaha meminimalisir permasalahan-permasalahan yang ada di daerah itu.
Dalam rubrik potret kali ini kami tampilkan sosok Drs Suharto Dj, salah satu aset berharga yang dimiliki oleh Balai TNGL. Sudah banyak sekali hasil penelitian dan pemikiran yang beliau sumbangkan dalam khasanah ilmu pengetahuan hayati. Dalam edisi ini pula, Pak Harto menyumbangkan salah satu tulisannya tentang Baning, penyu dilindungi yang diyakini masih banyak terdapat di kawasan TNGL.
Banjir bandang, terutama yang pernah terjadi di sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Leuser kami ulas dalam rubrik Dinamika. Dan untuk rubrik Khasanah, kami menghadirkan sebuah ulasan tentang pentingnya penginderaan jauh untuk pengelolaan sebuah kawasan konservasi, sebuah tulisan dari rekan-rekan dari Baplan Pusat. Di rubrik Wanasastra, kembali Pak Ginting menuangkan karyanya berupa puisi, yang terilhamkan ketika berada di tepi Sungai Bohorok.
Selamat Membaca....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar