Kamis, 23 April 2009

Jejak Leuser Edisi XIII


Salam Lestari,

Belajar.....
Dalam edisi ini, catatan-catatan tentang “belajar” banyak dicetuskan oleh para penulis. Belajar dalam hal ini adalah belajar untuk alam, belajar mencintai alam, belajar memiliki alam dengan 'benar'. Mulai dari sekedar konsep sampai dengan tulisan mengenai bagaimana penulis berusaha mengejewantahkan belajar pada tahap implementasi.

Pada edisi ini, Ismail OIC mencoba menularkan ilmunya tentang concept modelling, sebuah konsep yang ingin dia terapkan untuk merancang skema permasalahan dalam rangka menyusun rencana dan strategi konservasi TNGL dalam pride campaign, kampanye dengan bangga. Sebuah langkah skematis yang konon telah berhasil diimplementasikan pada beberapa kawasan lain di Indonesia maupun di luar negeri sana.

Pada Rubrik Kehati, Ridha kembali hadir untuk menginformasikan kepada para pembaca tentang parasit indah rupa, yang ternyata juga banyak terdapat di ranah Leuser. Balanophora. Dan pada rubrik ini juga, Lina mengupas singkat tentang Rosella, 'teh' yang sedang nge-trend­ dengan berbagai khasiatnya itu.

Selanjutnya, Esti Asmalia, dengan pengalamannya ketika melakukan syuting untuk Eagle Award, mencoba berbagi pengalaman ketika dia berada di Tanah Borneo. Sebuah pengalaman sarat muatan konservasi dari sebuah budaya desa yang jauh dari gemerlap 'kesombongan' kota. Pengalaman yang semoga dapat membuka mata kita untuk dapat belajar tentang alam, budaya , kehidupan sosial dan belajar menghargai....

Dan pada 'Wacana', Dwiana dengan latar belakangnya sebagai Penyuluh Kehutanan berusaha mengupas uneg-uneg-nya tentang pemberdayaan masyarakat dengan pendekatan rasa memiliki terhadap hutan. Belajar mempunyai 'rasa memiliki', itulah yang coba dikedepankan dalam tulisannya. Semoga menjadi tulisan yang berguna...

Senin, 29 Desember 2008

Jejak Leuser Edisi XII

SEKAPUR SIRIH

Salam Lestari…

Dengan sedikit perubahan di layout, Jejak Leuser kembali hadir di hadapan para pembaca.

Tulisan tentang Leuser sebagai salah satu rangkaian Tropical Rainforest Heritage of Sumatra masih menghiasi JL pada edisi ini. Tulisan-tulisan ini merupakan hasil dua mahasiswa Universitas Sumatera Utara-Medan, yang berpartisipasi dalam lomba menulis yang diselenggarakan oleh Balai Besar TNGL dan UNESCO beberapa waktu yang lalu. Fakhrullah menulis tentang betapa pentingnya Leuser, secara umum; sedangkan Lina menulis lebih spesifik, yaitu tentang Bukit Lawang dan orangutannya. Tentunya dengan balutan pesan yang sama: lestarikan Leuser.

Pada edisi ini, pembahasan tentang pisang diulas secara singkat oleh Lulut di rubrik Kehati. Ternyata banyak sisi lain dari pisang yang selama ini belum kita ketahui, meskipun mungkin hampir setiap hari kita melihat buah tersebut. Di rubrik Dinamika, Bu Yani, demikian sapaan akrab Kabag TU Balai Besar TNGL, menulis tentang begitu pentingnya daerah penyangga sebuah kawasan konservasi yang ironisnya justru sering 'terlupakan. Apa yang diungkapkan oleh Bu Yani? Jawabannya ada di halaman 16.

Di “Khasanah”, Rina mengemukakan pendapatnya bahwa penginderaan jauh ternyata juga dapat digunakan untuk meng-estimasi cadangan karbon yang kita punya. Di rubrik ini Rina juga berbicara tentang pemanasan global, perdagangan emisi, dan lain sebagainya.

Di rubrik Wacana, Yunita mencoba 'curhat di buletin ini. Curahan hatinya tentang para konservasionis, tentang para pembela hutan, dan tentang hutan itu sendiri. Dan di rubrik ini juga, Ali mencoba mengemukakan pendapat pribadinya tentang eksistensi Polhut, sebuah jabatan yang dia emban selama masuk pegawai Balai Besar TNGL.

Akhirnya di 'Wanasastra', Pak Adi mencurahkan kecintaannya kepada mangrove dalam bentuk puisi indah yang beliau buat 3 tahun lalu.

Selamat membaca...